Link

Cari

Photo

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday262
mod_vvisit_counterYesterday348
mod_vvisit_counterThis week610
mod_vvisit_counterLast week1953
mod_vvisit_counterThis month1642
mod_vvisit_counterLast month11828
mod_vvisit_counterAll days34190

We have: 6 guests, 4 bots online
Your IP: : 38.107.191.81
 , 
Today: September 06, 2010
Komisi IV DPR RI Tinjau Revitalisasi Gula di Buma

By Humas, on 22-07-2010 08:57

Views : 322

Favoured : 21

Published in : Berita, Perkebunan

andi_punoko

Dirut ptpn7 Andi Punoko menyerahkan Cinderamata kepada Anna Mu’awanah

 

Untuk mendukung swasembada gula nasional, PTPN VII melaksanakan revitalisasi kebun dan

pabrik gula di dua unit usaha,yaitu Bungamayang dan Cintamanis.

Kegiatannya berupa peningkatan produksi tebu di kebun (on farm) dan peningkatan kapasitas giling pabrik (off farm).


tanam_perdana

Anna Mu’awanah Komisi IV DPR RI menanam tebu perdana pada tanam tahun 2010

 

Hingga pertengahan tahun 2010, kegiatan revitalisasi terus berjalan. Khusus untuk Unit Usaha Bungamayang,

pada tahap pertama kapasitas giling pabrik gula dinaikkan dari 5.500 ton tebu per hari (TCD) menjadi 7.000 TCD.

“Saat ini dalam tahap penyesuaian,” kata Direktur Utama PTPN VII H.

Andi Punoko di hadapan rombongan Komisi IV DPR RI yang berkunjung ke Bungamayang, Selasa (22 Juni 2010).

Sedangkan untuk tahap II, yaitu tahun 2010-2011 kapasitas giling akan dinaikkan kembali menjadi 10.000 TCD.

Karena itu, juga diperlukan penambahan luas areal kebun untuk tanaman

tebu sendiri seluas 7.100 ha dan tebu rakyat 6.288 ha.

Tahun ini mulai digarap lahan seluas 3.000 ha lebih eks PT ADP di Tulangbawang.

 

Dalam paparannya Direktur Utama PTPN VII menjelaskan kebijakan gula nasional

dan program revitalisasi yang dilaksanakan PTPN VII.

Menurut Andi, dilakukannya revitalisasi di dua PG milik PTPN VII tersebut untuk mendukung pencapaian industri gula BUMN tahun 2009-2014.

Produksi gula BUMN saat ini mencapai 2,32 juta ton, sementara PTPN VII sendiri baru menghasilkan 5,7 persennya.

 

Faktor penting dalam revitalisasi industri gula adalah dukungan kebijakan yang

konsisten dan kondusif mulai dari aspek tata ruang (penyediaan areal),

proteksi dan inisiatif harga, agroinput, prosesing, dan pemasaran gula.

Dengan demikian, pelaku industri bisa lebih aktif bergerak untuk terus meningkatkan produksi gula nasional.

 

Selain peningkatan kapasitas pabrik, jelas Andi, PTPN VII juga menanam tebu varietas unggul dengan hasil produksi 80-100 ton/ha,

dengan rendemen 9-10%. Saat ini rendemen tebu yang ada di Bungamayang baru mencapai 8,80%.

“Kami menanam tebu sesuai dengan sifat dan tipologi lahan,” katanya.

 

Langkah lain yang dilakukan yakni dengan penambahan sarana irigasi di Bungamayang dan Cintamanis,

berupa pembangunan embung irigasi dari 359 menjadi 393 hingga tahun 2014 di Bungamayang dan dari 166 menjadi 193 di Cintamanis.

 

Hingga tahun 2009, areal tebu Bungamayang yang diairi melalui irigasi baru mencapai 15% dan tahun 2010 baru 20% dari total areal yang ada.

“Diharapkan dengan pembuatan embung irigasi sekitar 85% areal sudah bisa diairi,”

kata Andi. Harus diakui, kelemahan PG Bugamayang dibandingkan dengan pabrik gula lainnya yang ada di

Lampung adalah dalam hal manajemen air yang masih kurang.

 

“Karena tebu ditanam di lahan yang kering, pembangunan tandon air berupa embung dan

penyediaan presarana irigasi sangat diperlukan,” katanya.

Perbaikan juga dilakukan pada manajemen tebang muat dan angkut,

dengan menerapkan sistem tebang kombinasi, yakni mekanis, semi mekanis, dan manual.

Juga menerapkan pola tebang 4-2-4, meningkatkan kualitas tebang MBS (manis, bersih, segar)

dan menerapkan pemberian insentif kualitas kepada penebang.

 

Untuk musim giling tahun 2010, target produksi gula PTPN VII sebesar 172.644 ton gula.

Target produksi ini naik dibandingkan tahun 2009 yang 128.570 ton gula.

“Alhamdulillah produksi gula PTPN VII setiap tahun mengalami kenaikan,

rendemennya juga naik. Yang lebih membanggakan lagi mutu gula PTPN VII setiap tahun tambah bagus,” papar Andi.

 

Rombongan Komisi IV DPR RI yang diketuai Anna Mu’awanah dan didampingi Dirjen Perkebunan A.

Manggabarani, jajaran Direksi PTPN VII, serta para manajer bagian dan unit usaha PTPN VII meninjau pabrik dan kebun di Bungamayang.

 

Ketua Komisi IV DPR RI Anna Mu’awanah menilai PTPN VII sudah melakukan program revitalisasi gula secara serius.

“Kami melihat usaha untuk menuju swasembada gula naional telah dijalankan dengan baik.

Memang banyak hal yang harus dilakukan, apalagi mengelola kebun tebu di lahan kering seperti di Bungamayang,” katanya.

Menurutnya, peningkatan kapasitas giling pabrik memang harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas tebu di lahan.

“Untuk meningkatkan produksi dan rendemen, diperlukan perlakuan yang baik terhadap tanaman, termasuk pengairan.

Karena itu, pemerintah hendaknya menberikan dukungan dalam pembangunan sarana irigasi tersebut,”

ujar ketua Komisi yang membidangi pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan itu.

Dia juga mengatakan BUMN perlu memiliki independensi dalam menentukan harga gula, j

angan bergantung pada pihak lain. Sebab, BUMN mempunyai tugas khusus dari negara, selain mencari keuntungan.

Last update: 23-07-2010 06:02

User comments Quote this article in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us Related articles Read more...
PDF
 
Menuju sejahtera lewat kemitraan

By Humas, on 22-07-2010 08:26

Views : 1093

Favoured : 20

Published in : ptpn7, ptpn7

kunjungan_agro7

Program revitalisasi perkebunan yang diluncurkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu mulai menggeliat di PTPN VII.

Program pertama yang dilaksanakan adalah revitalisasi gula yang dilaksanakan di Unit Usaha Bungamayang dan Cintamanis.

Selain menambah kapasitas giling pabrik, revitalisasi juga dilaksanakan on farm, baik melalui perluasan lahan maupun perbaikan budidaya,

terutama pembangunan infrastruktur irigasi untuk meningkatkan produksi tebu.

Perluasan lahan dilakukan dengan mencari lahan baru, antara lain take over lahan dari

PT ADP di Menggala maupun perluasan kemitraan melalui tebu rakyat.

 


lahan

lahan kemitraan

 

Kerja sama kemitraan dengan petani melalui program revitalisai perkebuan yang kini juga dalam proses adalah rencana

pembangunan kebun plasma sawit di Rawapitu.

Sesuai hasil survei, potensi lahan yang bisa digarap seluas 10 ribu ha. Untuk tahap pertama akan

dibangun kebun seluas 3.500 ha, bermitra dengan petani melalui koperasi.

Lahan yang akan ditanami kelapa sawit tersebut saat ini merupakan lahan tidur berupa rawa-rawa yang kurang produktif.

Dengan pembangunan kebun plasma, diharapkan mampu mengangkat kesejahteraan petani di Rawapitu dan sekitarnya.

 

Dalam kemitraan ini PTPN VII telah menjalankan dua misi sekaligus, yaitu usaha untuk

meningkatkan laba dan membangun kebun untuk menyejahterakan masyarakat.

Hal ikhwal tentang kerja sama kemitraan melalui program revitalisasi perkebunan

di Rawapitu inilah yang menjadi pembahasan utama pada edisi kita kali ini.

Program tersebut sangat dinantikan petani. Sebab, selama ini petani tak memperoleh

hasil yang memuaskan dari budidaya tanaman pangan mereka di lahan sawah pasang surut.

Sementara petani juga tak punya modal untuk membangun kebun sawit.

Last update: 23-07-2010 05:43

User comments Quote this article in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us Related articles Read more...
PDF
 
Kebun Sawit di Lokasi PLTU Tenayan Raya

By Administrator, on 10-07-2010 12:43

Views : 398

Favoured : 27

Published in : Berita, Perkebunan

Keberadaan kebun kelapa sawit di lokasi PLTU Tenayan Raya harus dibebaskan. Untuk itu, Pemko Pekanbaru bersedia memberi ganti rugi kepada pemiliknya.

Riauterkini-PEKANBARU- Setelah dilakukan investigasi kelapangan secara langsung oleh beberapa pejabat Pemko, terkait pananaman kelapa sawit seluas enam hektar diatas lahan pembangunan Pembangkit Listruk Tenaga Uap (PLTU),

diwilayah Tenayan Raya. Akhirnya Walikota Pekanbaru Herman Abdullah dikantornya, Jum’at (9/7/10) mengatakan didepan wartawan jika pihaknya bersedia akan mengganti rugi kepada pemilik sawit ,

dengan catatan pemilik sawit tersebut bisa menunjukkan bukti kuat bahwa lahan yang ditanaminya sawit memang lahan miliknya yang sah.

 


Last update: 22-07-2010 20:43

User comments Quote this article in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us Related articles Read more...
PDF
 
Karet alam

By Administrator, on 12-07-2010 13:22

Views : 414

Favoured : 28

Published in : Perkebunan, Karet

Diarsipkan di bawah: industri karet,penggolongan karet, sifat karet | Tag: Karet alam, karet indonesia, sol sepatu

Karet alam adalah jenis karet pertama yang dibuat sepatu. Sesudah penemuan proses vulkanisasi yang
membuat karet menjadi tahan terhadap cuaca dan tidak larut dalam minyak, maka karet mulai digemari
sebagai bahan dasar dalam pembuatan berbagai macam alat untuk keperluan dalam rumah ataupun pemakaian di luar rumah seperti sol sepatu dan bahkan sepatu yang semuanya terbuat dari bahan karet.
Sebelum itu usaha-usaha menggunakan karet untuk sepatu selalu gagal karena karet manjadi kaku
di musim hujan dan lengket serta berbau di musim panas seperti yang pernah dilakukan oleh Roxbury
Indian Rubber Company pada tahun 1833 dengan cara melarutkan karet alam terpentin dan mencampurnya dengan hitam karbon untuk menghasilkan karet keras yang tahan air.
Struktur dasar karet alam adalah rantai linear unit isoprene (C5H8) yang berat molekul rata-ratanya
tersebar antara 10.000 – 400.000.
Sifat-sifat mekanik yang baik dari karet alam menyebabkannya dapat digunakan untuk berbagai keperluan
umum seperti sol sepatu dan telapak ban kendaraan. Pada suhu kamar, karet tidak berbentuk kristal
padat dan juga tidak berbentuk cairan.
Perbedaan karet dengan benda-benda lain, tampak nyata pada sifat karet yang lembut, fleksibel dan elastis.
Sifat-sifat ini memberi kesan bahwa karet alam adalah suatu bahan semi cairan alamiah atau suatu cairan
dengan kekentalan yang sangat tinggi.Namun begitu, sifat-sifat mekaniknya menyerupai kulit binatang
sehingga harus dimastikasi untuk memutus rantai molekulnya agar menjadi lebih pendek. Proses mastikasi
ini mengurangi keliatan atau viskositas karet alam sehingga akan memudahkan proses selanjutnya saat
bahan-bahan lain ditambahkan.
Banyak sifat-sifat karet alam ini yang dapat memberikan keuntungan atau kemudahan dalam proses pengerjaan dan pemakaiannya, baik dalam bentuk karet atau kompon maupun dalam bentuk vulkanisat.
Dalam bentuk bahan mentah, karet alam sangat disukai karena mudah menggulung pada roll sewaktu diproses dengan open mill/penggiling terbuka dan dapat mudah bercampur dengan berbagai bahan-bahan yang diperlukan di dalam pembuatan kompon. Dalam bentuk kompon, karet alam sangat mudah dilengketkan satu sama lain sehingga sangat disukai dalam pembuatan barang-barang yang perlu dilapis-lapiskan sebelum vulkanisasi dilakukan.
Keunggulan daya lengket inilah yang menyebabkan karet alam sulit disaingi oleh karet sintetik dalam
pembuatan karkas untuk ban radial ataupun dalam pembuatan sol karet yang sepatunya diproduksi dengan
cara vulkanisasi langsung.

 

Last update: 12-07-2010 13:31

User comments Quote this article in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us Related articles Read more...
PDF
 
Tanaman Tebu

By Administrator, on 10-07-2010 20:56

Views : 369

Favoured : 24

Published in : Perkebunan, Tebu

PENDAHULUAN
Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penanaman tebu untuk mengatasi rendahnya produksi gula di Indonesia. Usaha pemerintah sangatlah wajar dan tidak berlebihan mengingat dulu Indonesia pernah mengalami masa kejayaan sebagai pengekspor gula sebelum perang. Bisakah masa keemasan ini terulang kembali?
Untuk itu PT. Natural Nusantara berusaha ikut serta mengembalikan masa kejayaan melalui peningkatan produksi tebu baik secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (aspek K-3).

SYARAT TUMBUH
Tanah yang cocok adalah bersifat kering-kering basah, yaitu curah hujan kurang dari 2000 mm per tahun. Tanah tidak terlalu masam, pH diatas 6,4. Ketinggian kurang dari 500 m dpl.

JENIS – JENIS TEBU
Jenis tebu yang sering ditanam POY 3016, P.S. 30, P.S. 41, P.S. 38, P.S. 36, P.S. 8, B.Z. 132, B.Z. 62, dll.

PEMBUKAAN KEBUN
Sebaiknya pembukaan dan penanaman dimulai dari petak yang paling jauh dari jalan utama atau lori pabrik
Ukuran got standar ; Got keliling/mujur lebar 60 cm; dalam 70 cm, Got malang/palang lebar 50 cm; dalam 60 cm. Buangan tanah got diletakkan di sebelah kiri got. Apabila got diperdalam lagi setelah tanam, maka tanah buangannya diletakkan di sebelah kanan got supaya masih ada jalan mengontrol tanaman.
Juringan/cemplongan (lubang tanam) baru dapat dibuat setelah got – got malang mencapai kedalaman 60 cm dan tanah galian got sudah diratakan. Ukuran standar juringan adalah lebar 50 cm dan dalam 30 cm untuk tanah basah, 25 cm untuk tanah kering. Pembuatan juringan harus dilakukan dua kali, yaitu stek pertama dan stek kedua serta rapi.
Jalan kontrol dibuat sepanjang got mujur dengan lebar + 1 m. Setiap 5 bak dibuat jalan kontrol sepanjang got malang dengan lebar + 80 cm. Pada juring nomor 28, guludan diratakan untuk jalan kontrol (jalan tikus)

TURUN TANAH/KEBRUK
Yaitu mengembalikan tanah stek kedua ke dalam juringan untuk membuat kasuran/bantalan/dasar tanah. Tebalnya tergantung keadaan, bila tanahnya masih basah + 10 cm. di musim kemarau terik tebal + 15 – 20 cm.

PERSIAPAN TANAM
- Lakukan seleksi bibit di luar kebun
- Bibit stek harus ditanam berhimpitan agar mendapatkan jumlah anakan semaksimal mungkin. Bibit stek + 70.000 per ha.
- Sebelum ditanam, permukaan potongan direndam dahulu dengan POC NASA dosis 2 tutup + Natural GLIO dosis 5 gr per 10 liter air.
- Sebelum tanam, juringan harus diari untuk membasahi kasuran, sehingga kasuran hancur dan halus.

 

Last update: 10-07-2010 21:02

User comments Quote this article in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us Related articles Read more...
PDF
 
« MulaiSebelumnya12BerikutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL