| By Humas,
on 22-07-2010 08:57
|
Views : 166 |
Favoured : 7 |
Published in : Berita, Perkebunan |

Dirut ptpn7 Andi Punoko menyerahkan Cinderamata kepada Anna Mu’awanah
Untuk mendukung swasembada gula nasional, PTPN VII melaksanakan revitalisasi kebun dan
pabrik gula di dua unit usaha,yaitu Bungamayang dan Cintamanis.
Kegiatannya berupa peningkatan produksi tebu di kebun (on farm) dan peningkatan kapasitas giling pabrik (off farm).

Anna Mu’awanah Komisi IV DPR RI menanam tebu perdana pada tanam tahun 2010
Hingga pertengahan tahun 2010, kegiatan revitalisasi terus berjalan. Khusus untuk Unit Usaha Bungamayang,
pada tahap pertama kapasitas giling pabrik gula dinaikkan dari 5.500 ton tebu per hari (TCD) menjadi 7.000 TCD.
“Saat ini dalam tahap penyesuaian,” kata Direktur Utama PTPN VII H.
Andi Punoko di hadapan rombongan Komisi IV DPR RI yang berkunjung ke Bungamayang, Selasa (22 Juni 2010).
Sedangkan untuk tahap II, yaitu tahun 2010-2011 kapasitas giling akan dinaikkan kembali menjadi 10.000 TCD.
Karena itu, juga diperlukan penambahan luas areal kebun untuk tanaman
tebu sendiri seluas 7.100 ha dan tebu rakyat 6.288 ha.
Tahun ini mulai digarap lahan seluas 3.000 ha lebih eks PT ADP di Tulangbawang.
Dalam paparannya Direktur Utama PTPN VII menjelaskan kebijakan gula nasional
dan program revitalisasi yang dilaksanakan PTPN VII.
Menurut Andi, dilakukannya revitalisasi di dua PG milik PTPN VII tersebut untuk mendukung pencapaian industri gula BUMN tahun 2009-2014.
Produksi gula BUMN saat ini mencapai 2,32 juta ton, sementara PTPN VII sendiri baru menghasilkan 5,7 persennya.
Faktor penting dalam revitalisasi industri gula adalah dukungan kebijakan yang
konsisten dan kondusif mulai dari aspek tata ruang (penyediaan areal),
proteksi dan inisiatif harga, agroinput, prosesing, dan pemasaran gula.
Dengan demikian, pelaku industri bisa lebih aktif bergerak untuk terus meningkatkan produksi gula nasional.
Selain peningkatan kapasitas pabrik, jelas Andi, PTPN VII juga menanam tebu varietas unggul dengan hasil produksi 80-100 ton/ha,
dengan rendemen 9-10%. Saat ini rendemen tebu yang ada di Bungamayang baru mencapai 8,80%.
“Kami menanam tebu sesuai dengan sifat dan tipologi lahan,” katanya.
Langkah lain yang dilakukan yakni dengan penambahan sarana irigasi di Bungamayang dan Cintamanis,
berupa pembangunan embung irigasi dari 359 menjadi 393 hingga tahun 2014 di Bungamayang dan dari 166 menjadi 193 di Cintamanis.
Hingga tahun 2009, areal tebu Bungamayang yang diairi melalui irigasi baru mencapai 15% dan tahun 2010 baru 20% dari total areal yang ada.
“Diharapkan dengan pembuatan embung irigasi sekitar 85% areal sudah bisa diairi,”
kata Andi. Harus diakui, kelemahan PG Bugamayang dibandingkan dengan pabrik gula lainnya yang ada di
Lampung adalah dalam hal manajemen air yang masih kurang.
“Karena tebu ditanam di lahan yang kering, pembangunan tandon air berupa embung dan
penyediaan presarana irigasi sangat diperlukan,” katanya.
Perbaikan juga dilakukan pada manajemen tebang muat dan angkut,
dengan menerapkan sistem tebang kombinasi, yakni mekanis, semi mekanis, dan manual.
Juga menerapkan pola tebang 4-2-4, meningkatkan kualitas tebang MBS (manis, bersih, segar)
dan menerapkan pemberian insentif kualitas kepada penebang.
Untuk musim giling tahun 2010, target produksi gula PTPN VII sebesar 172.644 ton gula.
Target produksi ini naik dibandingkan tahun 2009 yang 128.570 ton gula.
“Alhamdulillah produksi gula PTPN VII setiap tahun mengalami kenaikan,
rendemennya juga naik. Yang lebih membanggakan lagi mutu gula PTPN VII setiap tahun tambah bagus,” papar Andi.
Rombongan Komisi IV DPR RI yang diketuai Anna Mu’awanah dan didampingi Dirjen Perkebunan A.
Manggabarani, jajaran Direksi PTPN VII, serta para manajer bagian dan unit usaha PTPN VII meninjau pabrik dan kebun di Bungamayang.
Ketua Komisi IV DPR RI Anna Mu’awanah menilai PTPN VII sudah melakukan program revitalisasi gula secara serius.
“Kami melihat usaha untuk menuju swasembada gula naional telah dijalankan dengan baik.
Memang banyak hal yang harus dilakukan, apalagi mengelola kebun tebu di lahan kering seperti di Bungamayang,” katanya.
Menurutnya, peningkatan kapasitas giling pabrik memang harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas tebu di lahan.
“Untuk meningkatkan produksi dan rendemen, diperlukan perlakuan yang baik terhadap tanaman, termasuk pengairan.
Karena itu, pemerintah hendaknya menberikan dukungan dalam pembangunan sarana irigasi tersebut,”
ujar ketua Komisi yang membidangi pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan itu.
Dia juga mengatakan BUMN perlu memiliki independensi dalam menentukan harga gula, j
angan bergantung pada pihak lain. Sebab, BUMN mempunyai tugas khusus dari negara, selain mencari keuntungan. Last update: 23-07-2010 06:02
|